Koordinator tim Program Kemitraan Masyarakat Klaster 2 (PKM-K2) Fakultas MIPA (FMIPA) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado saat memberikan materi terkait pengaplikasian BIOSAKA dalam Budidaya Tanaman Hortikultura untuk peserta dari PKB Jemaat GMIM Elohim Kolongan Satu, Kota Tomohon.

TOMOHON – Program Kemitraan Masyarakat Klaster 2 (PKM-K2) Fakultas MIPA (FMIPA) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, terus berupaya mendorong penerapan pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Kali ini sasaran program PKM-K2 yang merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat Unsrat ini adalah para anggota Pria Kaum Bapa (PKB) Jemaat GMIM Elohim Kolongan Satu, Kota Tomohon.

Tim PKM-K2 yang terdiri dari Prof. Dr. Henny Lieke Rampe, M.Si., Dr. Hanny Hesky Pontororing, S.Si., M.Si., dan Dr. Stella Deiby Umboh, SP., M.Si, kali ini memberikan edukasi tentang pengaplikasian BIOSAKA dalam Budidaya Tanaman Hortikultura.

Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 9 September 2026 ini, diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota PKB yang sebagian berprofesi sebagai petani tanaman pangan dan hortikultura.

“Peserta yang telah mendapatkan materi juga diharapkan dapat meneruskan pengetahuan tersebut kepada anggota jemaat maupun masyarakat Kelurahan Kolongan Satu yang belum mengikuti penyuluhan,” kata ketua tim Prof. Dr. Henny Lieke Rampe, M.Si.

Mendorong Pertanian Ramah Lingkungan

Menurut Prof Henny, selama ini budidaya tanaman hortikultura banyak menghadapi tantangan, salah satunya serangan hama dan patogen yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman, menurunkan produksi, bahkan menyebabkan tanaman mengalami kerusakan berat.

Dalam praktik di lapangan, pestisida sintetik masih menjadi salah satu pilihan yang banyak digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman karena memiliki daya kerja yang relatif cepat.

Namun, penggunaan pestisida yang berlebihan maupun aplikasi yang tidak tepat dapat menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan. Di antaranya pencemaran lingkungan, kematian organisme non-target, terganggunya rantai makanan alami, berkurangnya keragaman hayati, resistensi hama, hingga terbunuhnya musuh alami.

Karena itu, menurutnya, pendekatan pengendalian hama terpadu menjadi penting dengan mengombinasikan berbagai metode pengendalian secara bijaksana dan sesuai kondisi di lapangan.

“Salah satu alternatif yang diperkenalkan dalam program PKM-K2 ini adalah pemanfaatan elisitor BIOSAKA,” ujarnya.

BIOSAKA diperkenalkan sebagai elisitor berbahan dasar berbagai jenis rumput dan daun tumbuhan sehat. Pemanfaatannya diarahkan untuk membantu merangsang respons pertahanan tanaman sehingga tanaman diharapkan memiliki kemampuan lebih baik dalam menghadapi tekanan lingkungan dan organisme pengganggu.

Menurutnya, selain pemberian teori, kegiatan PKM-K2 juga memberikan keterampilan praktis kepada peserta melalui pengenalan jenis tumbuhan yang berpotensi menjadi bahan elisitor, praktik pembuatan BIOSAKA, serta penjelasan mengenai aplikasinya pada tanaman hortikultura.

Suasana kegiatan penyuluhan yang digelar tim pelaksana Program Kemitraan Masyarakat Klaster 2 (PKM-K2) Fakultas MIPA (FMIPA) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado

Potensi Petani Hortikultura di Kolongan Satu

Anggota PKB GMIM Elohim Kolongan Satu yang menjadi mitra kegiatan memiliki latar belakang yang beragam. Sebagian di antaranya berprofesi sebagai petani tanaman pangan dan hortikultura.

Tanaman yang biasa dibudidayakan antara lain bayam, pokcai, kubis, wortel, sawi, kacang tanah, buncis, kacang panjang, ubi jalar, singkong dan talas.

Potensi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya peningkatan pengetahuan mengenai teknik budidaya yang lebih ramah lingkungan.

Berdasarkan pengamatan awal, pemanfaatan elisitor BIOSAKA di kalangan petani setempat masih relatif rendah. Kondisi tersebut antara lain disebabkan terbatasnya pengetahuan dan pengalaman mengenai pemanfaatan elisitor berbahan tumbuhan.

“Melalui program ini, petani tidak hanya mendapatkan pengetahuan secara teoritis, tetapi juga dibekali keterampilan yang dapat diterapkan secara langsung di lapangan,” ujar anggota tim lainnya Dr. Hanny Hesky Pontororing, S.Si., M.Si., dan Dr. Stella Deiby Umboh, SP., M.Si.

Tidak Sekadar Penyuluhan

Peserta antusias dalam kegiatan penyuluhan karena dianggap sebagai hal penting dalam meningkatkan produksi pertanian yang ramah lingkungan.

Pelaksanaan PKM-K2 dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama, peserta mendapatkan materi mengenai pengertian dan penggunaan pestisida sintetik serta elisitor BIOSAKA.

Materi berikutnya membahas dampak penggunaan pestisida sintetik terhadap konsumen dan lingkungan, serta pengenalan berbagai tumbuhan yang berpotensi digunakan sebagai bahan elisitor untuk membantu menginduksi respons pertahanan tanaman.

Tahap selanjutnya adalah praktik pembuatan elisitor BIOSAKA. Peserta diberikan kesempatan untuk memahami proses pembuatannya sekaligus mengenal bahan-bahan tumbuhan yang dapat dimanfaatkan.

Setelah penyuluhan dan praktik, dilakukan evaluasi serta monitoring untuk melihat capaian kegiatan, keberlanjutan keterampilan yang telah diberikan, sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala yang mungkin muncul di lapangan.

Target utama kegiatan ini adalah agar anggota PKB GMIM Elohim Kolongan Satu memperoleh informasi ilmiah mengenai manfaat BIOSAKA dan teknik aplikasinya dalam budidaya tanaman hortikultura.

Selain itu, peserta diharapkan memiliki keterampilan membuat elisitor BIOSAKA dan mampu mengaplikasikannya sebagai bagian dari upaya pengelolaan organisme pengganggu tanaman.

Pengetahuan Diharapkan Menyebar ke Masyarakat

Dijelaskan Henny, program PKM-K2 ini tidak berhenti pada peserta yang mengikuti kegiatan. Para peserta diharapkan dapat menjadi penyambung informasi dengan meneruskan pengetahuan mengenai BIOSAKA kepada anggota jemaat dan masyarakat Kelurahan Kolongan Satu lainnya.

Dengan pola tersebut, Henny mengatakan jika manfaat kegiatan diharapkan dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas dan mendorong semakin banyak petani mengenal alternatif pengelolaan tanaman yang lebih memperhatikan aspek lingkungan.

“Bagi Kota Tomohon yang memiliki potensi besar pada sektor pertanian hortikultura, peningkatan kapasitas petani menjadi bagian penting dalam mendukung produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.

“Melalui Program Kemitraan Masyarakat Klaster 2 Universitas Sam Ratulangi, kegiatan penyuluhan dan pelatihan BIOSAKA diharapkan dapat menjadi salah satu langkah dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani, sekaligus mendorong penggunaan input pertanian secara lebih bijaksana,” katanya kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *