Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Manado (Unima) saat memberikan edukasi ke para siswa SMA Negeri 1 Tondano terkait dengan pencemaran lingkungan terutama di Danau Tondano.

MINAHASA – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Manado (Unima) kembali menggelar pelatihan edukasi terkait upaya mitigasi pencemaran lingkungan di wilayah Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut).

Kali ini pelatihan digelar untuk siswa SMA Negeri 1 Tondano, terkait dengan pemberian pemahaman kepada para siswa mengenai pencemaran logam berat, peran sedimen sebagai penyimpan pencemar, serta metode ilmiah untuk memantau kondisi lingkungan danau.

Ketua tim, Vistarani Arini Tiwow, S.Si., M.Sc, mengatakan jika upaya ini untuk meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap kelestarian lingkungan Danau Tondano, dengan edukasi berbasis sains.

“Dipilihnya SMA Negeri 1 Tondano menjadi sasaran kegiatan pemberdayaan masyarakat karena berada di kawasan Kabupaten Minahasa yang memiliki keterkaitan erat dengan Danau Tondano. Sekolah tersebut memiliki sekitar 800 hingga 1.000 siswa yang sebagian besar berasal dari keluarga yang bermukim di sekitar kawasan danau,” ujar Vistarani.

Suasana pelatihan yang digelar Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Manado (Unima) di SMA Negeri 1 Tondano

Didampingi para anggota tim yakni, Ishak Pawarangan, S.Pd., M.Sc. dan Cristi Ascika Sekeon, S.Pd., M.P.Fis, dijelaskan jika Danau Tondano memiliki fungsi strategis bagi masyarakat di Sulut.

Pasalnya, selain menjadi sumber air baku dan pembangkit listrik tenaga air, danau juga menjadi sumber perikanan serta kawasan wisata yang menopang aktivitas ekonomi masyarakat.

“Namun, ekosistem danau menghadapi tekanan akibat berbagai aktivitas manusia di kawasan tangkapan air maupun badan danau,” kata mereka.

Salah satu perhatian dalam program tersebut adalah potensi pencemaran yang berasal dari aktivitas pertanian, permukiman, serta budidaya ikan menggunakan keramba jaring apung.

Sisa pakan dan kotoran ikan dapat menjadi sumber bahan organik yang mengendap di dasar danau. Sedimen kemudian dapat menjadi media akumulasi berbagai pencemar dalam jangka panjang.

Kenalkan Pencemaran Lewat Data Lokal

Program edukasi ini tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai pencemaran air secara umum. Siswa juga diperkenalkan dengan konsep sedimen sebagai salah satu indikator penting dalam kajian pencemaran lingkungan.

Selama ini, pembelajaran mengenai pencemaran lebih banyak berfokus pada kualitas air. Padahal, sedimen dapat berperan sebagai tempat terakumulasinya berbagai unsur pencemar. Karena itu, siswa diperkenalkan pada data dan fenomena yang berkaitan langsung dengan kondisi Danau Tondano.

Selain itu, siswa akan diperkenalkan dengan metode suseptibilitas magnetik, yaitu pendekatan geofisika lingkungan yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan mineral magnetik yang berasosiasi dengan logam berat. Metode analisis geokimia menggunakan X-Ray Fluorescence (XRF) juga diperkenalkan secara konseptual kepada siswa.

Data tersebut kemudian dapat divisualisasikan melalui Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam bentuk peta distribusi logam berat dan suseptibilitas magnetik.

“Dengan pendekatan visual, siswa diharapkan lebih mudah memahami pola sebaran pencemar berdasarkan lokasi,” kata seluruh anggota tim.

Pembelajaran Tidak Berhenti di Ruang Kelas

Kegiatan dirancang menggunakan pendekatan edukatif, partisipatif, dan berbasis sains. Siswa tidak hanya menerima materi melalui ceramah, tetapi juga mengikuti diskusi, demonstrasi visual, latihan membaca data, hingga mini project.

Tahapan kegiatan dimulai dengan sosialisasi dan koordinasi bersama pihak sekolah. Pada tahap awal, siswa diberikan pemahaman mengenai kondisi lingkungan Danau Tondano sekaligus mengikuti pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal mereka.

Selanjutnya, siswa mengikuti pelatihan mengenai logam berat, pencemaran lingkungan, suseptibilitas magnetik, analisis geokimia, serta interpretasi data spasial. Metode pembelajaran dilakukan melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, demonstrasi visual, dan kuis.

Pada tahap penerapan teknologi, siswa diperkenalkan dengan simulasi pengukuran suseptibilitas magnetik, data hasil penelitian, serta peta distribusi spasial. Siswa juga diarahkan mengerjakan mini project berupa analisis sederhana berdasarkan data yang diberikan.

Diharapkan Menjadi Agen Perubahan

Setelah mendapatkan pelatihan dan edukasi terkait pencemaran lingkungan, para siswa SMA Negeri 1 Tondano diharapkan menjadi agen perubahan dalam menjaga kelestarian lingkungan terutama Danau Tondano

Program tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan siswa, tetapi juga mendorong munculnya kesadaran untuk menjaga lingkungan Danau Tondano.

Salah satu targetnya adalah terbentuknya kelompok siswa peduli lingkungan yang dapat berperan sebagai agen perubahan di sekolah maupun masyarakat. Materi yang diperoleh juga diharapkan dapat diintegrasikan dalam pembelajaran IPA atau Geografi sehingga edukasi lingkungan dapat terus berlanjut setelah program selesai.

Keberhasilan kegiatan nantinya dapat diukur melalui peningkatan hasil pre-test dan post-test, tingkat partisipasi siswa, kemampuan menjelaskan konsep dasar pencemaran, serta tersedianya media edukasi seperti modul dan peta distribusi logam berat.

Lebih jauh, program ini diharapkan memberikan dampak bagi masyarakat sekitar Danau Tondano. Meningkatnya literasi lingkungan di kalangan siswa diharapkan dapat menyebar kepada keluarga dan masyarakat sehingga terbentuk kesadaran kolektif untuk menjaga kualitas lingkungan danau.

“Dengan pendekatan yang menggabungkan sains, teknologi dan kondisi lokal, Danau Tondano tidak hanya diposisikan sebagai objek yang perlu dijaga, tetapi juga sebagai ruang belajar bagi generasi muda untuk memahami persoalan lingkungan secara langsung,” kata mereka kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *