Ilustrasi cabai rawit dan bawang merah.

MANADO – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengeluarkan rilis jika pada bulan Juli 2026, Sulut mengalami deflasi sebesar 1,06 persen jika dibandingkan bulan Juni 2026 atau month to month (m to m).

Dalam rilis itu, deflasi dipengaruhi penurunan harga komoditas makanan (bahan dapur), seperti cabai rawit, bawang merah maupun tomat. Selain itu, angkutan udara juga memberikan andil terjadinya deflasi di bulan Juli 2026 ini.

Jika dilihat secara kelompok, maka kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi bulanan dengan penurunan sebesar 3,57 persen.

Angka deflasi 1,06 persen ini sendiri bisa saja semakin dalam. Namun, ada beberapa komoditas yang menahan laju deflasi karena tetap terjadi peningkatan harga dari sebelumnya. Komoditas-komoditas yang menahan deflasi adalah kenaikan tarif akademi atau perguruan tinggi, peningkatan harga besar, ikan malalugis, daun bawang dan bawang putih.

Kepala BPS Provinsi Sulut, Dr. Watekhi S.Si, MSE, pada rilis tersebut, juga menjelaskan inflasi antar wilayah (IHK) di Sulut pada Juli 2026 ini, di mana seluruh wilayah pemantauan di 4 Kabupaten dan Kota alami deflasi.

Deflasi terdalam terjadi di Minahasa Utara sebesar 2,32 persen, kemudian Minahasa Selatan 1,84 persen dan Kota Kotamobagu sebesar 1,17 persen. Sementara, Kota Manado jadi paling kecil yakni sebesar 0,43 persen terjadi deflasi. Dari keempat wilayah itu, Cabai Rawit jadi komoditas paling besar menyumbang laju deflasi.

“Sementara, untuk inflasi tahun kalender (Januari–Juli 2026) tercatat 3,38 persen dan inflasi tahunan mencapai 2,53 persen,” kata Watekhi kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *