Pemeriksaan bahan pangan yang masuk ke Sulawesi Utara oleh Barantin melalui Karantina Sulawesi Utara.

MANADO – Badan Karantina Indonesia (Barantin) melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (Karantina) Sulawesi Utara (Sulut), memasuki bulan Ramadan 2026 menguatkan pengawasan di pintu pemasukan dan pengeluaran distribusi pangan, baik di pelabuhan laut maupun di bandara.

Hal ini adalah konsistensi Barantin dalam menjalankan tugas penguatan biosekuriti untuk memastikan keamanan dan mutu pangan bagi masyarakat tetap terjaga, di tengah tren meningkatnya arus distribusi barang dan mobilitas penumpang selama Ramadan hingga Idul Fitri mendatang.

Kepala Karantina Sulawesi Utara, Agus Mugiyanto, mengaku jika intesitas pemeriksaan fisik dan dokumen pada fase Ramadan dan Idul Fitri maupun hari besar keagamaan lainnya memang ditingkatkan, walaupun secara rutinitas sebelum fase ini, kesiapsiagaan petugas karantina telah berjalan 24 jam selama seminggu atau 24/7.

“Peningkatan pengawasan ini bertujuan untuk menjamin bahwa setiap bahan pangan yang ke luar masuk wilayah Sulawesi Utara benar-benar sehat, aman, dan bebas dari Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK), Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK), dan maupun Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK),” kata Agus dalam siaran persnya.

“Karantina Sulawesi Utara ingin masyarakat merasa tenang bahwa bahan pangan yang dilalulintaskan antarpulau, untuk keperluan sahur dan berbuka telah melalui pemeriksaan karantina yang ketat,” ujarnya lagi.

Lebih lanjut, Agus menjelaskan jika tren tahunan periode Ramadan hingga Idul Fitri memang selalu diikuti dengan lonjakan frekuensi dan volume pengiriman komoditas bahan pangan.

Data Best Trust (Barantin Electronic System for Transaction and Utility Service Technology) di Ramadan 2025 lalu, mencatat adanya peningkatan volume pengiriman pada komoditas seperti telur sebanyak 746 ton dari bulan biasanya 592 ton atau naik sebesar 26,01 persen. Frekuensinya naik sebesar 770 kali pengiriman dari bulan biasa 470 kali atau naik 63,83%.

Contoh lainnya, komoditas daging sapi sebesar 14,78 ton dari bulan biasanya 13,82 ton atau naik 6,94 persen. Frekuensinya meningkat dari 27 kali menjadi 43 kali pengiriman untuk daging sapi atau sebesar 59,26 persen.

Selain jalur logistik rutin, petugas karantina juga mewaspadai peningkatan barang bawaan penumpang kapal laut seiring dimulainya pergerakan mudik lebih awal. Pejabat karantina di lapangan secara konsisten melakukan pemeriksaan berlapis terhadap setiap komoditas.

“Pengawasan ini menjadi krusial untuk memitigasi risiko masuknya penyakit lintas wilayah yang dapat mengancam sumber daya alam hayati, terutama saat mobilitas barang mencapai puncaknya di arus mudik nanti. Di Sulawesi Utara, petugas karantina siaga pengawasan di Bandara Sam Ratulangi, Pelabuhan Manado, Bitung, Tahuna, Siau, hingga Melonguane,” tutur Agus.

“Lonjakan lalu lintas komoditas di pelabuhan dan bandara tidak boleh melonggarkan standar biosekuriti. Kami pastikan seluruh komoditas hewan, ikan, dan tumbuhan yang melintas telah melalui pemeriksaan karantina yang ketat demi keamanan pangan nasional,” katanya kembali.

Upaya penguatan pengawasan ini akan terus disiagakan tanpa henti hingga puncak arus mudik dan balik Lebaran mendatang. Hal ini menjadi prioritas utama Karantina Sulawesi Utara dalam memberikan pelindungan maksimal bagi masyarakat serta mendukung kelancaran distribusi pangan yang aman, sehat, dan bermutu tinggi di seluruh wilayah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *