
MANADO – Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) memulai tahun 2026 dengan inflasi sebesar 0,67 persen secara month to month (m-to-m) atau dibandingkan bulan Desember 2025, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulut.
Komoditas dominan yang mendorong terjadinya inflasi adalah Tomat dengan nilai persentase 0,37 persen, disusul ikan cakalang (0,19) dan emas perhiasan (0,15).
Adapun komoditas penahan inflasi adalah cabai rawit yang terdeflasi sebesar 0,41 persen, serta bawang merah dan angkutan udara yang masing-masing sebesar 0,09 persen.
Sementara, jika inflasi dilihat menurut kelompok pengeluaran, maka kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau memiliki andil paling tinggi mendorong inflasi dengan persentase 0,50 persen disusul kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 0,18 persen.
Masih dari data resmi BPS, jika dilihat secara year on year (y-on-y) atau perbandingan antara Januari 2026 dan Januari 2025, inflasi terjadi sebesar 3,04 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,33.
Inflasi secara y-on-y ini didorong oleh tarif listrik sebesar 1,70 persen, serta emas perhiasan sebesar 0,67 persen dan beras sebesar 0,40 persen. Sementara turunnya harga daging babi dan cabai rawit, memberikan andil menahan laju inflasi dengan persentase sebesar 0,79 persen dan 0,63 persen.
Kota Manado menjadi daerah dengan inflasi tertinggi secara y-on-y yakni sebesar 4,05 persen, disusul Kota Kotamobagu sebesar 2,92 persen, Minahasa Utara 1,66 persen dan Minahasa Selatan 0,99 persen. Tarif listrik jadi komoditas dengan andil tertinggi penyebab inflasi.
