
MANADO – Pada bulan Februari 2026, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) alami inflasi sebesar 1,02 persen secara month to month (m-to-m) dan secara year to date (y-to-d) sebesar 1,69 persen.
Pada data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulut, Kelompok Pengeluaran Makanan, Minuman dan Tembakau menjadi kelompok pendorong inflasi tertinggi dengan nilai inflasi sebesar 2,11 persen dengan andil sebesar 0,69 persen.
Selain itu, kelompok pengeluaran transportasi juga menunjukkan ada andil sebesar 0,12 persen dengan nilai inflasi mencapai 0,95 persen. Sementara, perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi kelompok tertinggi kedua pendorong inflasi dengan andil mencapai 0,14 persen.
Kepala BPS Sulut, Agus Sudibyo, menjelaskan jika untuk komoditas dominan pendorong inflasi di bulan Februari 2026, ada tiga komoditas yakni cabai rawit dengan andil 0,61 persen, daun bawang sebesar 0,17 persen dan emas perhiasan 0,16 persen.
“Dan untuk komoditas yang menahan inflasi adalah bawang merah dengan andil minus 0,12 persen, daging babi minus 0,06 persen serta beras minus 0,03 persen,” kata Agus.
Lebih lanjut, Agus mengatakan jika Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) menjadi wilayah dengan inflasi tertinggi mencapai 1,50 persen dengan cabai rawit sebagai komoditas utama pendorong inflasi.
Sementara itu, jika dilihat secara tahun ke tahun atau Februari 2026 terhadap Februari 2025 (year on year), terjadi inflasi sebesar 4,64 persen, dengan kelompok pengeluaran terbesar pemberi andil inflasi adalah Perumahan, Air, Listrik dan Bahan Bakar Rumah Tangga sebesar 2,30 persen.
Menurut Agus, untuk inflasi secara y-on-y, Kota Manado menjadi daerah dengan tingkat inflasi tertinggi dibandingkan tiga wilayah cakupan lainnya. Kota Manado secara y-on-y alami inflasi hingga 5,73 persen dengan tarif listrik sebagai pendorong utama terjadinya inflasi.
“Untuk inflasi terendah adalah Kabupaten Minahasa Utara sebesar 2,72 persen,” kata Agus kembali.
